Kampung Sangir, Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo
Lues Provensi Aceh
Oleh : Abdul Rahman
A. Sejarah Kampung Sangir
Kata
Sangir berasal dari bahasa Karo, yaitu Nyangir yang artinya Merinang Emas.
Dahulu kala, Desa Sangir dikenal dengan daerah Merinang Emas. Awal mulanya ada
seseorang yang secara tidak sengaja melihat bayangan Emas di area perkampungan,
kemudian orang itu mendatangkan pekerja Emas dari Wilayah tanah Karo.
Selanjutnya orang Karo ini bekerja merinang Emas. Dalam bahasa Karo merinang
Emas disebut dengan kata Nyangir, kemudian lama-kelamaan dikenalah nama tempat
ini dengan Daerah Nyangir, dan kata Nyangir berubah sebutan dengan nama Sangir.
Kemudian lama-kelamaan tempat ini dijadikan sebuah Dusun yang Gampong induknya
adalah Gampong kutelintang.
Gambar
1 Alat yang digunakan untuk merinang emas/ alat nyangir.

Sumber: Gambar diambil pada tanggal 10
november 2018.
Pendirian Desa Sangir
diawali dengan pemekaran dari Desa Kutelintang pada tahun 2002, dikarenakan
jarak yang cukup jauh dari Desa induknya sehingga menyulitkan rentang kendali
pemerintahan Desa Wilayah dusun Sangir yang cukup luas sehingga warga meminta
untuk memisahkan diri dari wilayah Desa kutelintang. Maka dari itu dilakukan
pemekaran induk dari Desa Kutelintang menjadi Desa Sangir.
Dari
data Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir tahun 2016 menyebutkan bahwa,
pemekaran Desa dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak yang
berkaitan, kemudian setelah itu Pemerintah Kabupaten Gayo Lues membentuk
pemekaran Dusun Sangir menjadi Desa Sangir yang terdiri dari 4 dusun, yaitu:
1. Dusun
Sangir
2.
Dusun Dampa Kolak
3.
Dusun Pisang Abu
4. Dusun
Tukik.
B.
Keadaan Geografis Kampung
1. Letak Wilayah Kampung Sangir
Desa
Sangir memiliki luas wilayah yang tidak terlalu luas, serta daerah
administratif Kampung Sangir jika melihat ke Desa lainnnya yang terdapat di
Kecamatan Dabun Gelang adalah menjadi salah satu Desa yang memiliki wilayah
administratif sedang. Namun demikian, dengan tidak terlalu luasnya wilayah yang
harus dikembangkan oleh Pemerintahan Desa, maka hal itu diyakini akan cukup
membantu dalam meningkatkan potensi yang terdapat di Desa Sangir pada masa ke
masa. (Arsip Kantor Pengulu Gampong
Sangir, 2016:14).
Secara Geografis Desa sangir
merupakan salah satu Desa di Kecamatan Dabun Gelang yang mempunyai luas wilayah
mencapai 192 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 728 jiwa. Desa Sangir berada di
ketinggian lebih kurang 1095 mdpl (Lintang Utara 03
dan Lintang Timur
)
dan curah hujan lebih kurang 2200 mm/detik, rata-rata suhu udara 260c.
Desa Sangir terletak di sebelah Timur Kecamatan Dabun Gelang dengan jarak
tempuh menggunakan kendaraan lebih kurang 15 menit dari Kantor Kecamatan.
2. Batas Perkampungan.
Luas
wilayah Kampung Sangir mencapai 192 Ha yang berada di sekitaran hutan dengan
jarak ke Ibu Kota Provensi 552 Km, jarak ke Ibu Kota Kabupaten 7 Km, jarak ke
Ibu Kota Kecamatan 6 Km.
Adapun batas-batas wilayah Kampung Sangir sebagai
berikut:
1. Sebelah
Utara berbatasan dengan Kecamatan Pining.
2. Sebelah
Selatan berbatasan dengan Kampung Pepalan.
3. Sebelah
Timur berbatasan dengan Kampung Blang Temung.
4. Sebelah
Barat berbatasan dengan Kampung Pangur Bur Bulet.
3. Kondisi Tanah dan Tanaman.
Kampung
Sangir merupakan Kampung yang terletak di sekitaran hutan dengan kondisi tanah
yang subur dan berbukit-bukit. Di sekitaran Kampung dipenuhi oleh pohon pinus
yang berjejer yang tumbuh dengan sendirinya tanpa ditanam. Kegunaan dari pinus
ini biasanya digunakan masyarakat untuk papan dan juga sebagai kayu bakar
sehingga masyarakat membiarkannya tumbuh dimana saja.
Lahan yang ditumbuhi pinus
dimanfaatkan masyarakat juga untuk menanam tanaman Sere Wangi di bawahnya
dengan berdampingan. Pohon pinus berguna untuk kayu bakar dalam proses
menyuling minyak Sere Wangi, sehingga pohon Pinus ini dibiarkan saja tumbuh
ditengah-tengah tanaman Sere Wangi.
Selain Sere Wangi, masyarakat
memanfaatkan halaman rumah sebagai kebun kecil-kecilan. Setiap rumah penduduk
terdapat perkebunan kecil di depan atau di belakang rumah mereka yang
sebagiannya ditanami Pohon Kembiri, tanaman Kopi, Coklat, sayur-sayuran, dll.
C.
Pemerintahan
Desa Sangir
1. Sejarah
kepemimpinan Desa (Gecik)
Sejak awal pemekaran Desa Sangir pada
tahun 2002, Desa Sangir telah dipimpin oleh 3 (tiga) orang. Berikut daftar
kepemimpinan Desa Sangir sejak 2002 sampai sekarang.
Tabel 1.
Daftar Gecik Desa Sangir
2002-2019
NO.
|
PERIODE
|
NAMA
GECIK
|
KET
|
1.
|
2002-2007
|
USMAN K
|
-
|
2.
|
2008-2013
|
USMAN K
|
-
|
3.
|
2014-2019
|
AHMAD
|
-
|
Sumber: Arsip Kantor Pengulu
Gampong Sangir, tahun 2016.
Usman K dipilih sebagai kepala Desa pertama pada
priode 2002-2013. Pemilihan Kepala Desa di lakukan melalui sistem demokrasi
(Pilkades) dimana satu orang satu suara. Usman K memimpin selama 10 tahun
karena dia terpilih pada dua priode kepemimpinan. Kemudian setelah habis masa
jabatannya, Kampung Sangir kini dipimpin oleh Ahmad dari priode 2014-2019
setelah menang dari 4 calon Pilkades.
STRUKTUR
ORGANISASI PEMERINTAHAN
DESA
SANGIR KEC. DABUN GELANG KAB. GAYO LUES
MASA
JABATAN 2014 S/D 2019
|
||||
|
||||

2. Jumlah Penduduk Kampung Sangir
A. Jumlah Penduduk
Berdasarkan Usia
Tabel 2
Jumlah penduduk
berdasarkan usia
No.
|
Uraian
|
Jenis kelamin
|
Jumlah jiwa
|
|
Lk
|
Pr
|
|||
1.
|
Usia
0 bulan – 12 bulan
|
20
|
22
|
Jiwa
|
2.
|
Usia
13 bulan – 4 tahun
|
37
|
33
|
Jiwa
|
3.
|
Usia
5 tahun – 13 tahun
|
56
|
42
|
Jiwa
|
4.
|
Usia 14 tahun – 18
tahun
|
35
|
40
|
Jiwa
|
5.
|
Usia 19 tahun – 25
tahun
|
32
|
30
|
Jiwa
|
6.
|
Usia 26 tahun – 35
tahun
|
47
|
49
|
Jiwa
|
7.
|
Usia 36 tahun – 45
tahun
|
49
|
47
|
Jiwa
|
8.
|
Usia 46 tahun – 50 tahun
|
30
|
38
|
Jiwa
|
9.
|
Usia 51 tahun – 60
tahun
|
28
|
43
|
Jiwa
|
10.
|
Usia 61 tahun – 75
tahun
|
13
|
24
|
Jiwa
|
11.
|
Usia 75 ke atas
|
6
|
7
|
Jiwa
|
Total
|
353
|
375
|
728
jiwa
|
|
Sumber: Arsip Kantor Pengulu
Gampong Sangir, tahun 2016.
Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia
kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab 1 Ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja
adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan
jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Penentuan
usia kerja sangat beragam, ada yang menyebutkan 15-65 tahun, ada yang
menyebutkan di atas 20 tahun, dan ada juga yang menyebutkan di atas 7 tahun
karena anak-anak jalanan sudah termasuk tenaga kerja. (
https://id.m.wikipedia.org)
Dari tabel diatas rata-rata
usia kerja yaitu dari umur 19-50 tahun, usia belum bekerja dari umur 0-18 tahun
dan dari usia 51 sampai seterusnya merupakan usia tidak sanggup bekerja. Jumlah
usia kerja menurut tabel tersebut berjumlah 322
jiwa dan usia belum bekerja sejumlah 285
jiwa di tambah dengan usia 51 keatas berjumlah 121 jiwa.
Jadi,
secara sederhana bisa disimpulkan bahwa yang bekerja untuk mencukupi dan memenuhi kebutuhan rumah
tangga hanya berjumlah 322
jiwa terdiri dari laki-laki dan perempuan. Budaya dalam bekerja di Desa Sangir
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka dilakukan secara bersama yaitu
suami istri.
Secara
umum, masyarakat Desa Sangir bekerja sebagai petani. Sistem bertani masyarakat
tidak terpokus kepada satu tanaman saja, melainkan menanam bermacam-macam
tanaman seperti tanaman Padi, Sere Wangi, tanaman Kopi, Kembiri dan lain-lain.
Begitu juga dalam berternak, ternak mereka dilepas berkeliaran di Kampung tanpa
diurus sebagaimana mestinya.
3.
Aspek Sosial Budaya
Secara garis besar,
aspek sosial budaya masyarakat di Gampong Sangir dimana terlihat dari kegiatan sehari-hari yang mereka
lakukan, yaitu yang sesuai dengan adat istiadat serta nilai dan norma yang
berlaku di Aceh. Adapun fasilitas sosial Gampong Sangir sendiri terdapat dua tempat ibadah (Masjid dan
Menasah), Rumah wakap, Puskesmas pembantu, posyandu, dan Lapangan Olah Raga.
Kegiataan-kegiatan sosial
dalam masyarakat berjalan dengan sangat baik, misalnya gotong royong, kegiatan-kegiatan
adat, dan kegiatan keagamaan, musyawarah dan lain sebagainya. Selain itu,
masyarakat juga masih membudayakan budaya saling tolong menolong antara sesama,
misalnya budaya panglo (saling
membantu dalam bekerja) dan budaya nyorah
(meminjam beras atau padi dengan kembaliannya ditunggu setelah panen).
Tabel 3
Fasilitas Sosial
Gampong
NO
|
RUMAH IBADAH
|
Penggunaan
fasilitas
|
1.
|
Masjid Al-Huda Gampong
Sangir.
|
Shalat 5 waktu + shalat jumat
Aktif
|
2.
|
Menasah Gampong Sangir
|
Shalat magrib, dan subuh
Aktif
|
3.
|
Rumah Wakap
|
Tempat berteduh
|
4.
|
Poskesmas Pembantu
|
Tempat berobat
|
5.
|
Posyandu/poskesdes
|
Tempat berobat
|
6.
|
Lapangan Olah Raga
|
Lapangan bola kaki
|
Sumber:
Arsip Kantor Penghulu Gampong Sangir, Tahun 2016.
Kegiatan-kegiatan
keagamaan seperti pengajian orang tua, Isra mikrat, Maulid nabi, rapat-rapat
masyarakat Desa dan Kenduri-Kenduri yang memungkinkan acaranya diiringi dengan
makan bersama pasti diadakan di menasah. Tetapi acara-acara besar lainnya
seperti pelaksanaan shalat Id dan shalat jenazah yang tidak ada acara
makan-makan bersama, itu biasanya dilaksanakan di Mesjid. Fungsi dari mesjid di
Desa Sangir hanya untuk kegiatan shalat, tidak ada untuk kegiatan lain seperti
pengajian atau lainnya.
Fasilitas selanjutnya yaitu rumah
Wakap yang fungsinya sebagai rumah untuk tempat berteduh. Rumah Wakap ini
terletak dijalan menuju ke persawahan sehingga jika ada masyarakat yang merasa
kecapekan ataupun datang hujan selagi di jalan, masyarakat bisa berteduh di rumah
tersebut.
Selanjutnya fasilitas kesehatan
yaitu, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan Pos Kesehatan Masyarakat (Pokesmas).
Kedua fasilitas ini aktif hingga sekarang tetapi perbedaannya yang peneliti
lihat dimanan Poskesdes ini buka setiap hari dan obatnya juga gratis, sedangkan
Poskesmas ini bukanya hari hari selasa dan hari kamis dan obatnya juga tidak
gratis.
Fasilitas lapangan bola kaki yang
dimiliki oleh Kampung Sangir bukanlah lapangan yang sengaja dibuat, melainkan
lapangan yang lokasinya dulunya rata kemudian dijadikan oleh masyarakat sebagai
tempat bermain bola. Lapangan ini tidak aktif, hanya digunakan untuk latihan
saat ada pertandingan.
Kondisi
sosial budaya masyarakat ditunjukkan masih rendahnya kualitas dari sebagian
Sumber Daya Manusia masyarakat di Kampung Sangir, serta cendrung masih kuatnya
budaya paternalistik. Meskipun demikian pola budaya seperti ini dapat
dikembangkan sebagai kekuatan dalam pembangunan yang bersipat mobilisasi masa.
Di samping itu, masyarakat Kampung Sangir yang cendrung memiliki sifat
ekspresif, agamis dan terbuka dapat di manfaatkan sebagai pendorong budaya
transparasi dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan
pembangunan.
Tabel. 4.
Kegiatan
Sosial Kampung Sangir
No.
|
Uraian Sumber
|
Jml/volume
|
Keterangan
|
1.
|
Pengajian Anak-Anak
|
4/Dusun
|
Setiap Malam Jam 07-09
WIB
|
2.
|
Pengajian Ibu-ibu
|
4/Dusun
|
Setiap Malam Jumat dan
Siang Jumat
|
3.
|
Pengajian Bapak-Bapak
|
4/Dusun
|
Setiap Malam Kamis
|
4.
|
Kenduri Ulu Naih
|
4/Dusun
|
Setiap Mulai Bersawah
|
5.
|
Memperingati Hari Besar
Islam
|
1/Tahun
|
Bergabung Satu Desa
|
6.
|
Tari Saman dan Bines
|
1/Tahun
|
Setahun Sekali
|
7.
|
Wirid Yasin
|
4/Dusun
|
Dilakukan Pada Malam
Jumat
|
8.
|
Acara Adat (Sunat
Rasul, Pernikahan dll)
|
4/Dusun
|
Dilakukan secara
bersama-sama
|
Sumber:
Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016
4. Aspek Ekonomi
Masyarakat
Gampong Sangir
merupakan masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani.
Secara umum mereka bergerak dibidang tanaman padi dan tanaman sere wangi. Hasil
panen padi biasanya dikhususkan hanya untuk makan sehari-hari saja tanpa dijual
sedikitpun, dan untuk belanja lainnya mereka bekerja sebagai petani sere wangi,
dan kebun-kebun lainnya.
Tabel 5
Mata Pencarian Penduduk Gampong Sangir
NO.
|
MATA
PENCARIAN
|
JUMLAH
(Orang)
|
1.
|
Petani
|
160
|
2.
|
PNS/TNI/POLRI
|
13
|
3.
|
Pengerajin / Industri Rumah Tangga
|
93
|
4.
|
Peternak
|
5
|
5.
|
Pedagang
|
3
|
6.
|
Pertukangan
|
3
|
7.
|
Sopir Angkutan Umum
|
2
|
8.
|
Pekerjaan Bengkel
|
1
|
9.
|
PNS/TNI/POLRI
|
13
|
TOTAL
|
293
|
|
Sumber: Arsip Kantor Pengulu
Gampong Sangir, tahun 2016:23-24.
Dari tabel di atas menunjukan bahwa mata pencaharian
penduduk sebagian besar bergerak di bidang pertanian yang secara umum juga bergerak
pada tanaman Padi dan Sere Wangi. Sebagaimana diketahui bahwa, tanaman Padi dan
Sere Wangi hanya dapat dipanen dalam setahun dua kali sehingga masyarakat juga
memanfaatkan waktunya untuk menanam dan
merawat tanaman lainnya seperti tanaman Kembiri, Kopi, membuat Gula Aren,
menanam sayur-sayuran, dan lain sebagainya.
A.
Tanaman Padi.
Masyarakat
Kampung Sangir secara umum memiliki lahan persawahan 124 Ha dengan 21 Ha yang
masih tidak digunakan. Masyarakat memiliki lahan persawahan masing-masing setiap
keluarganya. Sistem bercocok tanam yang dilakukan dua kali dalam setahun secara
serentak. Dalam memulai bercocok tanam, tokoh masyarakat mengumumkan kepada
masyarakat bahwa hendak mulai bercocok tanam dan himbauan kepada masyarakat
agar menyiapkan bibitnya. Sebagaimana diketahui bahwa, bibit padi sebelum
ditanam direndam terlebih dahulu 2-3 hari hingga tumbuh seperti toge. Dalam
proses prendaman bibit itu dilaksanakan serentak seluruh masyarakat, sehingga
pertumbuhan dan panen padinya juga serentak nantinya.
Alasan
masyarakat bercocok tanam secara serentak diantaranya dapat mengurangi hama
tanaman dan juga pekerjaan sawahnya dapat dilakukan secara gotong royong..
Sebelum
bercocok tanam dimulai, masyarakat mengadakan kenduri di hulu perairan sawah
(Bendungan) sambil melaksanakan gotong royong membersihkan paret-paret
persawahan. Acara kenduri ini dilakukan setiap hendak mulai bercocok tanam
yaitu setahun dua kali.
Adapun hasil dari panen Padi tidak
dijual masyarakat melainkan disimpan untuk makan sehari-hari. Masyarakat yang
habis padi sebelum panen maka bisa dipinjam kepada masyarakat lainnya dengan
kembaliannya setelah panen berikutnya (Besesorahan).
Budaya pinjam meminjam padi seperti ini masih berlaku hingga sekarang.
B.
Tanaman Sere Wangi.
Tanaman
Sere Wangi merupakan salah satu mata pencaharian penduduk dengan mengolah
secara tradisional sehingga mengeluarkan minyak dan kemudian minyak tersebut
dipasarkan dengan harga 200-300.000 rupiah per Kg.
Luas
kebun Sere Wangi masyarakat Kampung Sangir seluas 175 Ha dengan rata-rata
minyak yang dapat dihasilkan per 1 Ha adalah 60 Kg minyak Sere dan dalam sehari
dapat dihasilkan rata-rata 2-3 Kg maka dalam 60 Kg minyak dibutuhkan waktu
lebih kurang 20-30 hari.
Panen
Sere Wangi sebenarnya tergantung
kepada daunnya, jika daunnya sudah panjang otomatis sudah bisa dipotong. Tetapi
menurut kebiasaan petani, biasanya
mereka memanen dalam 6 bulan sekali karena jika terlalu cepat dipanen maka
minyaknya akan kurang dan pertumbuhan Sere juga terganggu.
Cara
memanen Sere Wangi diawali dengan pemotongan daun, kemudian daun tersebut
dibiarkan/ diletakan di atas pohonnya hingga kering. Setelah daun kering
selanjutnya dikumpulkan dan direbus menggunakan drump (Tehnik penyulingan).
Kemudian setelah mendidih maka akan mengeluarkan minyak melalui selang besi
yang sudah dipasang sebelumnya. Minyak yang dihasilkan dari satu drump
rata-rata setengah Kg atau biasanya diukur menggunakan botol sirup, dan dalam
waktu lebih kurang satu jam setengah.
Gamar 2 Proses Panen Sere Wangi

Sumber : Google.com Sere Wangi Gayo Lues diakses pada
tanggal 10 juli 2019
Gambar tersebut merupakan gambar para petani sedang
memanen Sere Wangi. Gambar kiri menunjukkan seorang petani sedang memotong daun
Sere Wangi menggunakan sabit, dan daun yang dipotong tersebut diletakkan di
atas pokok yang sudah dipotong hingga kering. Fungsi daun dijemur sampai kering
supaya daun tersebut tidak terlalu berat dan mudah dalam mengumpulkannya. Setelah daun tersebut kering, kemudian
dikumpulkan dan lansung direbus menggunakan Keter.
Keter merupakan wadah penyulingan yang terbuat dari drum seperti yang
terlihat pada gambar di atas.
C.
Tanaman Kemiri.
Tanaman Kemiri di Desa
Sangir merupakan salah satu tumpuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ruamah
tangga mereka. Adapun jumlah tanaman kemiri di Desa Sangir dibagi kedalam 4
Dusun, di Dusun Tukik terdapat 300 pohon kemiri, di Dusun Sangir dan Dusun
Dampa Kolak terdapat pohon kemiri seluas 10 Ha, dan di Dusun Pisang Abu seluas
40 Ha.
Kondisi
pohon Kemiri di Desa Sangir kurang bagus karena kurang perawatan sehingga
hasilnya juga tidak maksimal. Hasil yang didapatkan dalam 1 Ha lebih kurang
hanya 80 kaleng (800 bambu).
D.
Tanaman Kopi.
Kebun
kopi yang terdapat di Desa Sangir tidak terlalu luas, yaitu hanya 22 Ha yang
terdapat di Dusun Tukik, Dusun Sangir dan Dusun Dampa Kolak yang mana kondisi dari
tanaman Kopi bagus tetapi hanya saja kurang perawatan.
Pelaksanaan penanggulangan
kemiskinan akan optimal apabila didukung oleh potensi yang dimiliki oleh
wilayah itu sendiri, baik yang berkait dengan potensi sumber daya alamnya
maupun masyarakat/manusianya. Sehingga dapat diukur tingkat kemampuan
masyarakat dalam mengatasi masalahnya dengan strategi yang sistematis, jelas
dan terarah tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukannya.
Tabel 6.
Potensi
Kampung (SDA)
No.
|
Jenis
|
Volume
|
Keterangan
|
1.
|
Sawah
|
||
Dusun Tukik
|
37 Ha
|
Sebagian belum
berfungsi
|
|
Dusun Sangir dan Dusun
Dampa Kolak
|
67 Ha
|
21 Ha lahan di Dampa
Kolak tidak digunakan
|
|
Dusun Pisang Abu
|
20 Ha
|
Tidak ada irigasi dan
kekurangan air
|
|
2.
|
Kebun Serai Wangi
|
Rata-rata dalam 1 Ha
menghasilkan 60 Kg Minyak Serai Wangi
|
|
Dusun Tukik
|
50 Ha
|
||
Dusun Sangir
|
25 Ha
|
||
Dusun Dampa Kolak
|
60 Ha
|
||
Dusun Pisang Abu
|
40 Ha
|
||
3.
|
Kebun
Kemiri
|
Kurang dalam
perawatan
|
|
Dusun Tukik
|
300 phn
|
||
Dusun Sangir dan Dusun
Dampa Kolak
|
10 Ha
|
||
Dusun Pisang Abu
|
40 Ha
|
||
4.
|
Kebun
Kopi
|
Rata-rata kondisi kopi
bagus hanya saja kurang perawatan
|
|
Dusun Tukik
|
2 Ha
|
||
Dusun Sangir dan Dusun
Dampa kolak
|
20 Ha
|
||
5.
|
Hutan
Pinus
|
Satu kawasan dengan
tanaman serai wangi
|
|
Dusun Sangir dan Dusun Dampa
kolak
|
50 Ha
|
||
Dusun Pisang Abu
|
40 Ha
|
||
6.
|
Pohon
Aren
|
Sebagian besar tidak
dimanfaatkan, baru 900 pohon yang bisa menghasilkan air nira
|
|
Dusun Tukik
|
2000 phn
|
||
Dusun Sangir
|
200 phn
|
||
Dusun Dampa Kolak
|
200 phn
|
||
Dusun Pisang Abu
|
300 phn
|
||
7.
|
Ternak
Sapi/kerbau
|
Ternak tidak
dibiarkan berkeliaran di perkampungan dan malam hari dikurung
|
|
Dusun Sangir dan Dusun
Dampa Kolak
|
11 Ekor
|
||
Dusun Tukik
|
7 Ekor
|
Sumber:
Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.
5.
Aspek
Pendidikan
Perkembangan pendidikan
anak-anak di Gampong
Sangir secara umum dimulai dari SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Tetapi
kesadaran masyarakat saat ini mengenai pendidikan belum berkembang sebagaimana
mestinya, para anak-anak banyak yang putus sekolah dan menjadi pengangguran.
Selain itu, masyarakat banyak yang buta baca tulis. Salah satu yang penyebabnya
adalah mereka banyak yang tidak pernah sekolah sama sekali karena mereka
melihat perkembangan masyarakat hanya bergerak di bidang pertanian dan mereka
menilai sekolah itu tidak terlalu penting.
Tabel
7.
Fasilitas
Pendidikan Gampong Sangir.
No.
|
Jenis Fasilitas
|
Unit
|
1.
|
TPA
|
1 unit
|
2.
|
PAUD
|
1 unit
|
3.
|
MIS
|
1 unit
|
4.
|
MTS
|
1 unit
|
5.
|
MASS
|
1 unit
|
Sumber: Arsip Kantor Pengulu
Gampong Sangir, tahun 2016.
Proses
belajar mengajar TPA dan PAUD aktif pada setiap harinya. TPA dan PAUD ini
merupakan milik Kampung Sangir sendiri, dan pengajarnya juga orang Kampung
sendiri yang proses belajar mengajarnya didanai oleh dana Desa. Gedung yang
digunakan untuk TPA dan PAUD hanya satu gedung yang bertingkat. Kemudian gedung
tersebut digunakan untuk anak-anak PAUD ruangannya di bawah dan untuk anak-anak
TPA ruangan di atas.
Kemudian
untuk sekolah MIS, MTS, dan MASS, merupakan sekolah milik Pemerintah Daerah
yang letaknya di Kampung Sangir tersebut. Dulu sekolah ini ketiganya aktif,
tetapi sekarang MASS tidak aktif lagi karena siswanya tidak ada. Anak-anak yang
tamat MTS ada yang putus sekolah sampai disitu dan ada juga yang sekolah
keluar.
Potensi sumber daya manusia yang ada
di Kampung Sangir masih perlu digali, berbagai tenaga trampil di bidang
pertanian, perkebunan dan teknologi informasi serta lainnya merupakan modal
bagi pembangunan ekonomi dan pertanian, namun potensi ini belom bisa dimaksimalkan.
Kampung Sangir memiliki beberapa tenaga trampil di bidang pertanian dan
perkebunan. Selain itu terdapat juga jasa perbengkelan dan ahli di bidang
bangunan.
Potensi tersebut berpengaruh
terhadap peningkatan prekonomian di Kampung Sangir. Selain potensi di atas
banyak juga potensi sumber daya manusia yang lainnya, di anataranya:
1. Adanya
Sarjana Lulusan Perguruan Tinggi.
2. Sumber
Daya Usia Produktif baik laki-laki maupun perempuan
3. Adanya
kader kesehatan posyandu yang bisa menunjang tarap kesehatan warga dan
mengurangi resiko kematian saat melahirkan.
4. Unsur
kelembagaan yang sudah lengkap mulai dari perangkat Kampung, BPD/BPK, LPM, PPK,
Posyandu, Kelompok Tani.
Di
samping itu juga, dilakukan pemetaan RTM (Rumah Tangga Miskin) dan warga yang
peduli (Relawan/tokoh masyarakat/pemuda/tokoh agama dan tokoh perempuan)
terhadap pelaksanaan penanggulangan kemiskinan. Hal ini dilakukan karena dengan
dukungan tokoh-tokoh tersebut dapat mendorong dalam proses penanggulangan
kemiskinan. Keberhasilan penanggulangan kemiskinan juga didukung dari
kesesuaian dan pembangunan Lampung sesuai kebutuhan masyarakat dan pembanguna
Kampung.
Tabel. 8.
Potensi
Sumber Daya Manusia Kampung Sangir
No.
|
Uraian Sumber
|
Jumlah
|
Volume
|
1.
|
Pendidikan S2
|
2
|
Jiwa
|
2.
|
Pendidikan S1
|
13
|
Jiwa
|
3.
|
Pendidikan D3
|
4
|
Jiwa
|
4.
|
Tamat SMA
|
44
|
Jiwa
|
Sumber:
Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.
Dari
tabel tersebut dapat kita simpulkan bahwa, sumber daya manusia di Kampung Sangir tersebut masih sangat
kurang.
Karena
kurangnya kesadaran
dan kurangnya ekonomi masyarakat sehingga
tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Komentar
Posting Komentar