Kampung Sangir, Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues Provensi Aceh
Oleh : Abdul Rahman



A. Sejarah Kampung Sangir
            Kata Sangir berasal dari bahasa Karo, yaitu Nyangir yang artinya Merinang Emas. Dahulu kala, Desa Sangir dikenal dengan daerah Merinang Emas. Awal mulanya ada seseorang yang secara tidak sengaja melihat bayangan Emas di area perkampungan, kemudian orang itu mendatangkan pekerja Emas dari Wilayah tanah Karo. Selanjutnya orang Karo ini bekerja merinang Emas. Dalam bahasa Karo merinang Emas disebut dengan kata Nyangir, kemudian lama-kelamaan dikenalah nama tempat ini dengan Daerah Nyangir, dan kata Nyangir berubah sebutan dengan nama Sangir. Kemudian lama-kelamaan tempat ini dijadikan sebuah Dusun yang Gampong induknya adalah Gampong kutelintang.



Gambar 1 Alat yang digunakan untuk merinang emas/ alat nyangir.
Sumber: Gambar diambil pada tanggal 10 november 2018.
           


Pendirian Desa Sangir diawali dengan pemekaran dari Desa Kutelintang pada tahun 2002, dikarenakan jarak yang cukup jauh dari Desa induknya sehingga menyulitkan rentang kendali pemerintahan Desa Wilayah dusun Sangir yang cukup luas sehingga warga meminta untuk memisahkan diri dari wilayah Desa kutelintang. Maka dari itu dilakukan pemekaran induk dari Desa Kutelintang menjadi Desa Sangir.
            Dari data Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir tahun 2016 menyebutkan bahwa, pemekaran Desa dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak yang berkaitan, kemudian setelah itu Pemerintah Kabupaten Gayo Lues membentuk pemekaran Dusun Sangir menjadi Desa Sangir yang terdiri dari 4 dusun, yaitu:
1.      Dusun Sangir
2.      Dusun Dampa Kolak
3.      Dusun Pisang Abu
4.      Dusun Tukik.

B. Keadaan Geografis Kampung
1. Letak Wilayah Kampung Sangir
            Desa Sangir memiliki luas wilayah yang tidak terlalu luas, serta daerah administratif Kampung Sangir jika melihat ke Desa lainnnya yang terdapat di Kecamatan Dabun Gelang adalah menjadi salah satu Desa yang memiliki wilayah administratif sedang. Namun demikian, dengan tidak terlalu luasnya wilayah yang harus dikembangkan oleh Pemerintahan Desa, maka hal itu diyakini akan cukup membantu dalam meningkatkan potensi yang terdapat di Desa Sangir pada masa ke masa. (Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir,  2016:14).
            Secara Geografis Desa sangir merupakan salah satu Desa di Kecamatan Dabun Gelang yang mempunyai luas wilayah mencapai 192 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 728 jiwa. Desa Sangir berada di ketinggian lebih kurang 1095 mdpl (Lintang Utara 03 dan Lintang Timur ) dan curah hujan lebih kurang 2200 mm/detik, rata-rata suhu udara 260c. Desa Sangir terletak di sebelah Timur Kecamatan Dabun Gelang dengan jarak tempuh menggunakan kendaraan lebih kurang 15 menit dari Kantor Kecamatan.


Gambar 2 Peta Kampung Sangir
Sumber : https://www.google.com






2. Batas Perkampungan.
            Luas wilayah Kampung Sangir mencapai 192 Ha yang berada di sekitaran hutan dengan jarak ke Ibu Kota Provensi 552 Km, jarak ke Ibu Kota Kabupaten 7 Km, jarak ke Ibu Kota Kecamatan 6 Km.
Adapun  batas-batas wilayah Kampung Sangir sebagai berikut:
1.      Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pining.
2.      Sebelah Selatan berbatasan dengan Kampung Pepalan.
3.      Sebelah Timur berbatasan dengan Kampung Blang Temung.
4.      Sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Pangur Bur Bulet.
3. Kondisi Tanah dan Tanaman.
            Kampung Sangir merupakan Kampung yang terletak di sekitaran hutan dengan kondisi tanah yang subur dan berbukit-bukit. Di sekitaran Kampung dipenuhi oleh pohon pinus yang berjejer yang tumbuh dengan sendirinya tanpa ditanam. Kegunaan dari pinus ini biasanya digunakan masyarakat untuk papan dan juga sebagai kayu bakar sehingga masyarakat membiarkannya tumbuh dimana saja.
            Lahan yang ditumbuhi pinus dimanfaatkan masyarakat juga untuk menanam tanaman Sere Wangi di bawahnya dengan berdampingan. Pohon pinus berguna untuk kayu bakar dalam proses menyuling minyak Sere Wangi, sehingga pohon Pinus ini dibiarkan saja tumbuh ditengah-tengah tanaman Sere Wangi.
            Selain Sere Wangi, masyarakat memanfaatkan halaman rumah sebagai kebun kecil-kecilan. Setiap rumah penduduk terdapat perkebunan kecil di depan atau di belakang rumah mereka yang sebagiannya ditanami Pohon Kembiri, tanaman Kopi, Coklat, sayur-sayuran, dll.
C. Pemerintahan Desa Sangir
1. Sejarah kepemimpinan Desa (Gecik)
           Sejak awal pemekaran Desa Sangir pada tahun 2002, Desa Sangir telah dipimpin oleh 3 (tiga) orang. Berikut daftar kepemimpinan Desa Sangir sejak 2002 sampai sekarang.






Tabel 1.
Daftar Gecik Desa Sangir 2002-2019
NO.
PERIODE
NAMA GECIK
KET
1.
2002-2007
USMAN K
-
2.
2008-2013
USMAN K
-
3.
2014-2019
AHMAD
-
            Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.

           


Usman K dipilih sebagai kepala Desa pertama pada priode 2002-2013. Pemilihan Kepala Desa di lakukan melalui sistem demokrasi (Pilkades) dimana satu orang satu suara. Usman K memimpin selama 10 tahun karena dia terpilih pada dua priode kepemimpinan. Kemudian setelah habis masa jabatannya, Kampung Sangir kini dipimpin oleh Ahmad dari priode 2014-2019 setelah menang dari 4 calon Pilkades.



















STRUKTUR ORGANISASI PEMERINTAHAN
DESA SANGIR KEC. DABUN GELANG KAB. GAYO LUES
MASA JABATAN 2014 S/D 2019

PENGULU          AHMAD

 

KETUA BPK          M.YASIN
 
 

K
 























2. Jumlah Penduduk Kampung Sangir
A. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
Tabel 2
Jumlah penduduk berdasarkan usia
No.
Uraian
Jenis kelamin
Jumlah jiwa
Lk
Pr
1.
Usia 0 bulan – 12 bulan
20
22
Jiwa
2.
Usia 13 bulan – 4 tahun
37
33
Jiwa
3.
Usia 5 tahun – 13 tahun
56
42
Jiwa
4.
Usia 14 tahun – 18 tahun
35
40
Jiwa
5.
Usia 19 tahun – 25 tahun
32
30
Jiwa
6.
Usia 26 tahun – 35 tahun
47
49
Jiwa
7.
Usia 36 tahun – 45 tahun
49
47
Jiwa
8.
Usia 46 tahun – 50  tahun
30
38
Jiwa
9.
Usia 51 tahun – 60 tahun
28
43
Jiwa
10.
Usia 61 tahun – 75 tahun
13
24
Jiwa
11.
Usia 75 ke atas
6
7
Jiwa
Total
353
375
728 jiwa
Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.

           


Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab 1 Ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Penentuan usia kerja sangat beragam, ada yang menyebutkan 15-65 tahun, ada yang menyebutkan di atas 20 tahun, dan ada juga yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan sudah termasuk tenaga kerja. ( https://id.m.wikipedia.org)
Dari tabel diatas rata-rata usia kerja yaitu dari umur 19-50 tahun, usia belum bekerja dari umur 0-18 tahun dan dari usia 51 sampai seterusnya merupakan usia tidak sanggup bekerja. Jumlah usia kerja menurut tabel tersebut berjumlah 322 jiwa dan usia belum bekerja sejumlah 285 jiwa di tambah dengan usia 51 keatas berjumlah 121 jiwa.
            Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan bahwa yang bekerja untuk mencukupi dan memenuhi kebutuhan rumah tangga hanya berjumlah 322 jiwa terdiri dari laki-laki dan perempuan. Budaya dalam bekerja di Desa Sangir untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka dilakukan secara bersama yaitu suami istri.
            Secara umum, masyarakat Desa Sangir bekerja sebagai petani. Sistem bertani masyarakat tidak terpokus kepada satu tanaman saja, melainkan menanam bermacam-macam tanaman seperti tanaman Padi, Sere Wangi, tanaman Kopi, Kembiri dan lain-lain. Begitu juga dalam berternak, ternak mereka dilepas berkeliaran di Kampung tanpa diurus sebagaimana mestinya. 
3. Aspek Sosial Budaya
Secara garis besar, aspek sosial budaya masyarakat di Gampong Sangir dimana terlihat dari kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan, yaitu yang sesuai dengan adat istiadat serta nilai dan norma yang berlaku di Aceh. Adapun fasilitas sosial Gampong Sangir sendiri terdapat dua tempat ibadah (Masjid dan Menasah), Rumah wakap, Puskesmas pembantu, posyandu, dan Lapangan Olah Raga.
Kegiataan-kegiatan sosial dalam masyarakat berjalan dengan sangat baik, misalnya gotong royong, kegiatan-kegiatan adat, dan kegiatan keagamaan, musyawarah dan lain sebagainya. Selain itu, masyarakat juga masih membudayakan budaya saling tolong menolong antara sesama, misalnya budaya panglo (saling membantu dalam bekerja) dan budaya nyorah (meminjam beras atau padi dengan kembaliannya ditunggu setelah panen).


Tabel 3
Fasilitas Sosial Gampong
NO
RUMAH IBADAH
Penggunaan fasilitas
1.
Masjid Al-Huda Gampong Sangir.

Shalat 5 waktu + shalat jumat
Aktif
2.
Menasah Gampong Sangir
Shalat magrib, dan subuh
Aktif
3.
Rumah Wakap
Tempat berteduh
4.
Poskesmas Pembantu
Tempat berobat
5.
Posyandu/poskesdes
Tempat berobat
6.
Lapangan Olah Raga
Lapangan bola kaki
Sumber: Arsip Kantor Penghulu Gampong Sangir, Tahun 2016.
           


Kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian orang tua, Isra mikrat, Maulid nabi, rapat-rapat masyarakat Desa dan Kenduri-Kenduri yang memungkinkan acaranya diiringi dengan makan bersama pasti diadakan di menasah. Tetapi acara-acara besar lainnya seperti pelaksanaan shalat Id dan shalat jenazah yang tidak ada acara makan-makan bersama, itu biasanya dilaksanakan di Mesjid. Fungsi dari mesjid di Desa Sangir hanya untuk kegiatan shalat, tidak ada untuk kegiatan lain seperti pengajian atau lainnya.
            Fasilitas selanjutnya yaitu rumah Wakap yang fungsinya sebagai rumah untuk tempat berteduh. Rumah Wakap ini terletak dijalan menuju ke persawahan sehingga jika ada masyarakat yang merasa kecapekan ataupun datang hujan selagi di jalan, masyarakat bisa berteduh di rumah tersebut.
            Selanjutnya fasilitas kesehatan yaitu, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan Pos Kesehatan Masyarakat (Pokesmas). Kedua fasilitas ini aktif hingga sekarang tetapi perbedaannya yang peneliti lihat dimanan Poskesdes ini buka setiap hari dan obatnya juga gratis, sedangkan Poskesmas ini bukanya hari hari selasa dan hari kamis dan obatnya juga tidak gratis. 
            Fasilitas lapangan bola kaki yang dimiliki oleh Kampung Sangir bukanlah lapangan yang sengaja dibuat, melainkan lapangan yang lokasinya dulunya rata kemudian dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat bermain bola. Lapangan ini tidak aktif, hanya digunakan untuk latihan saat ada pertandingan.
Kondisi sosial budaya masyarakat ditunjukkan masih rendahnya kualitas dari sebagian Sumber Daya Manusia masyarakat di Kampung Sangir, serta cendrung masih kuatnya budaya paternalistik. Meskipun demikian pola budaya seperti ini dapat dikembangkan sebagai kekuatan dalam pembangunan yang bersipat mobilisasi masa. Di samping itu, masyarakat Kampung Sangir yang cendrung memiliki sifat ekspresif, agamis dan terbuka dapat di manfaatkan sebagai pendorong budaya transparasi dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.



Tabel. 4.
Kegiatan Sosial Kampung Sangir
No.
Uraian Sumber
Jml/volume
Keterangan
1.
Pengajian Anak-Anak
4/Dusun
Setiap Malam Jam 07-09 WIB
2.
Pengajian Ibu-ibu
4/Dusun
Setiap Malam Jumat dan Siang Jumat
3.
Pengajian Bapak-Bapak
4/Dusun
Setiap Malam Kamis
4.
Kenduri Ulu Naih
4/Dusun
Setiap Mulai Bersawah
5.
Memperingati Hari Besar Islam
1/Tahun
Bergabung Satu Desa
6.
Tari Saman dan Bines
1/Tahun
Setahun Sekali
7.
Wirid Yasin
4/Dusun
Dilakukan Pada Malam Jumat
8.
Acara Adat (Sunat Rasul, Pernikahan dll)
4/Dusun
Dilakukan secara bersama-sama
Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016


4. Aspek Ekonomi
            Masyarakat Gampong Sangir merupakan masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Secara umum mereka bergerak dibidang tanaman padi dan tanaman sere wangi. Hasil panen padi biasanya dikhususkan hanya untuk makan sehari-hari saja tanpa dijual sedikitpun, dan untuk belanja lainnya mereka bekerja sebagai petani sere wangi, dan kebun-kebun lainnya.



Tabel 5
Mata Pencarian Penduduk Gampong Sangir
NO.
MATA PENCARIAN
JUMLAH (Orang)
1.
Petani
160
2.
PNS/TNI/POLRI
13
3.
Pengerajin / Industri Rumah Tangga
93
4.
Peternak
5
5.
Pedagang
3
6.
Pertukangan
3
7.
Sopir Angkutan Umum
2
8.
Pekerjaan Bengkel
1
9.
PNS/TNI/POLRI
13
TOTAL
293
Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016:23-24.

           


Dari tabel di atas menunjukan bahwa mata pencaharian penduduk sebagian besar bergerak di bidang pertanian yang secara umum juga bergerak pada tanaman Padi dan Sere Wangi. Sebagaimana diketahui bahwa, tanaman Padi dan Sere Wangi hanya dapat dipanen dalam setahun dua kali sehingga masyarakat juga memanfaatkan waktunya untuk  menanam dan merawat tanaman lainnya seperti tanaman Kembiri, Kopi, membuat Gula Aren, menanam sayur-sayuran, dan lain sebagainya.

A. Tanaman Padi.
            Masyarakat Kampung Sangir secara umum memiliki lahan persawahan 124 Ha dengan 21 Ha yang masih tidak digunakan. Masyarakat memiliki lahan persawahan masing-masing setiap keluarganya. Sistem bercocok tanam yang dilakukan dua kali dalam setahun secara serentak. Dalam memulai bercocok tanam, tokoh masyarakat mengumumkan kepada masyarakat bahwa hendak mulai bercocok tanam dan himbauan kepada masyarakat agar menyiapkan bibitnya. Sebagaimana diketahui bahwa, bibit padi sebelum ditanam direndam terlebih dahulu 2-3 hari hingga tumbuh seperti toge. Dalam proses prendaman bibit itu dilaksanakan serentak seluruh masyarakat, sehingga pertumbuhan dan panen padinya juga serentak nantinya.
            Alasan masyarakat bercocok tanam secara serentak diantaranya dapat mengurangi hama tanaman dan juga pekerjaan sawahnya dapat dilakukan secara gotong royong..
            Sebelum bercocok tanam dimulai, masyarakat mengadakan kenduri di hulu perairan sawah (Bendungan) sambil melaksanakan gotong royong membersihkan paret-paret persawahan. Acara kenduri ini dilakukan setiap hendak mulai bercocok tanam yaitu setahun dua kali.
            Adapun hasil dari panen Padi tidak dijual masyarakat melainkan disimpan untuk makan sehari-hari. Masyarakat yang habis padi sebelum panen maka bisa dipinjam kepada masyarakat lainnya dengan kembaliannya setelah panen berikutnya (Besesorahan). Budaya pinjam meminjam padi seperti ini masih berlaku hingga sekarang.
B. Tanaman Sere Wangi.
            Tanaman Sere Wangi merupakan salah satu mata pencaharian penduduk dengan mengolah secara tradisional sehingga mengeluarkan minyak dan kemudian minyak tersebut dipasarkan dengan harga 200-300.000 rupiah per Kg.
            Luas kebun Sere Wangi masyarakat Kampung Sangir seluas 175 Ha dengan rata-rata minyak yang dapat dihasilkan per 1 Ha adalah 60 Kg minyak Sere dan dalam sehari dapat dihasilkan rata-rata 2-3 Kg maka dalam 60 Kg minyak dibutuhkan waktu lebih kurang 20-30 hari.
            Panen Sere Wangi sebenarnya tergantung kepada daunnya, jika daunnya sudah panjang otomatis sudah bisa dipotong. Tetapi menurut  kebiasaan petani, biasanya mereka memanen dalam 6 bulan sekali karena jika terlalu cepat dipanen maka minyaknya akan kurang dan pertumbuhan Sere juga terganggu.
            Cara memanen Sere Wangi diawali dengan pemotongan daun, kemudian daun tersebut dibiarkan/ diletakan di atas pohonnya hingga kering. Setelah daun kering selanjutnya dikumpulkan dan direbus menggunakan drump (Tehnik penyulingan). Kemudian setelah mendidih maka akan mengeluarkan minyak melalui selang besi yang sudah dipasang sebelumnya. Minyak yang dihasilkan dari satu drump rata-rata setengah Kg atau biasanya diukur menggunakan botol sirup, dan dalam waktu lebih kurang satu jam setengah.



Gamar 2 Proses Panen Sere Wangi
 
Sumber : Google.com Sere Wangi Gayo Lues diakses pada tanggal 10 juli 2019
           


Gambar tersebut merupakan gambar para petani sedang memanen Sere Wangi. Gambar kiri menunjukkan seorang petani sedang memotong daun Sere Wangi menggunakan sabit, dan daun yang dipotong tersebut diletakkan di atas pokok yang sudah dipotong hingga kering. Fungsi daun dijemur sampai kering supaya daun tersebut tidak terlalu berat dan mudah dalam mengumpulkannya.  Setelah daun tersebut kering, kemudian dikumpulkan dan lansung direbus menggunakan Keter. Keter merupakan wadah penyulingan yang terbuat dari drum seperti yang terlihat pada gambar di atas.
C. Tanaman Kemiri.
Tanaman Kemiri di Desa Sangir merupakan salah satu tumpuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ruamah tangga mereka. Adapun jumlah tanaman kemiri di Desa Sangir dibagi kedalam 4 Dusun, di Dusun Tukik terdapat 300 pohon kemiri, di Dusun Sangir dan Dusun Dampa Kolak terdapat pohon kemiri seluas 10 Ha, dan di Dusun Pisang Abu seluas 40 Ha.
            Kondisi pohon Kemiri di Desa Sangir kurang bagus karena kurang perawatan sehingga hasilnya juga tidak maksimal. Hasil yang didapatkan dalam 1 Ha lebih kurang hanya 80 kaleng (800 bambu).
D. Tanaman Kopi.
            Kebun kopi yang terdapat di Desa Sangir tidak terlalu luas, yaitu hanya 22 Ha yang terdapat di Dusun Tukik, Dusun Sangir dan Dusun Dampa Kolak yang mana kondisi dari tanaman Kopi bagus tetapi hanya saja kurang perawatan.
            Pelaksanaan penanggulangan kemiskinan akan optimal apabila didukung oleh potensi yang dimiliki oleh wilayah itu sendiri, baik yang berkait dengan potensi sumber daya alamnya maupun masyarakat/manusianya. Sehingga dapat diukur tingkat kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalahnya dengan strategi yang sistematis, jelas dan terarah tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukannya.


Tabel 6.
Potensi Kampung (SDA)
No.
Jenis
Volume
Keterangan
1.
Sawah


Dusun Tukik
37 Ha
Sebagian belum berfungsi
Dusun Sangir dan Dusun Dampa Kolak
67 Ha
21 Ha lahan di Dampa Kolak tidak digunakan
Dusun Pisang Abu
20 Ha
Tidak ada irigasi dan kekurangan air
2.
Kebun Serai Wangi



Rata-rata dalam 1 Ha menghasilkan 60 Kg Minyak Serai Wangi
Dusun Tukik
50 Ha
Dusun Sangir
25 Ha
Dusun Dampa Kolak
60 Ha
Dusun Pisang Abu
40 Ha
3.
Kebun Kemiri


Kurang dalam perawatan
Dusun Tukik
300 phn
Dusun Sangir dan Dusun Dampa Kolak
10 Ha
Dusun Pisang Abu
40 Ha
4.
Kebun Kopi


Rata-rata kondisi kopi bagus hanya saja kurang perawatan
Dusun Tukik
2 Ha
Dusun Sangir dan Dusun Dampa kolak
20 Ha
5.
Hutan Pinus


Satu kawasan dengan tanaman serai wangi
Dusun Sangir dan Dusun Dampa kolak
50 Ha
Dusun Pisang Abu
40 Ha
6.
Pohon Aren



Sebagian besar tidak dimanfaatkan, baru 900 pohon yang bisa menghasilkan air nira
Dusun Tukik
2000 phn
Dusun Sangir
200 phn
Dusun Dampa Kolak
200 phn
Dusun Pisang Abu
300 phn
7.
Ternak Sapi/kerbau


Ternak tidak dibiarkan berkeliaran di perkampungan dan malam hari dikurung
Dusun Sangir dan Dusun Dampa Kolak
11 Ekor
Dusun Tukik
7 Ekor
Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.



5.      Aspek Pendidikan
Perkembangan pendidikan anak-anak di Gampong Sangir secara umum dimulai dari SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Tetapi kesadaran masyarakat saat ini mengenai pendidikan belum berkembang sebagaimana mestinya, para anak-anak banyak yang putus sekolah dan menjadi pengangguran. Selain itu, masyarakat banyak yang buta baca tulis. Salah satu yang penyebabnya adalah mereka banyak yang tidak pernah sekolah sama sekali karena mereka melihat perkembangan masyarakat hanya bergerak di bidang pertanian dan mereka menilai sekolah itu tidak terlalu penting.
Tabel 7.
Fasilitas Pendidikan Gampong Sangir.
No.
Jenis Fasilitas
Unit
1.
TPA
1 unit
2.
PAUD
1 unit
3.
MIS
1 unit
4.
MTS
1 unit
5.
MASS
1 unit
Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.

            Proses belajar mengajar TPA dan PAUD aktif pada setiap harinya. TPA dan PAUD ini merupakan milik Kampung Sangir sendiri, dan pengajarnya juga orang Kampung sendiri yang proses belajar mengajarnya didanai oleh dana Desa. Gedung yang digunakan untuk TPA dan PAUD hanya satu gedung yang bertingkat. Kemudian gedung tersebut digunakan untuk anak-anak PAUD ruangannya di bawah dan untuk anak-anak TPA ruangan di atas.
            Kemudian untuk sekolah MIS, MTS, dan MASS, merupakan sekolah milik Pemerintah Daerah yang letaknya di Kampung Sangir tersebut. Dulu sekolah ini ketiganya aktif, tetapi sekarang MASS tidak aktif lagi karena siswanya tidak ada. Anak-anak yang tamat MTS ada yang putus sekolah sampai disitu dan ada juga yang sekolah keluar.
            Potensi sumber daya manusia yang ada di Kampung Sangir masih perlu digali, berbagai tenaga trampil di bidang pertanian, perkebunan dan teknologi informasi serta lainnya merupakan modal bagi pembangunan ekonomi dan pertanian, namun potensi ini belom bisa dimaksimalkan. Kampung Sangir memiliki beberapa tenaga trampil di bidang pertanian dan perkebunan. Selain itu terdapat juga jasa perbengkelan dan ahli di bidang bangunan.
            Potensi tersebut berpengaruh terhadap peningkatan prekonomian di Kampung Sangir. Selain potensi di atas banyak juga potensi sumber daya manusia yang lainnya, di anataranya:
1.      Adanya Sarjana Lulusan Perguruan Tinggi.
2.      Sumber Daya Usia Produktif baik laki-laki maupun perempuan
3.      Adanya kader kesehatan posyandu yang bisa menunjang tarap kesehatan warga dan mengurangi resiko kematian saat melahirkan.
4.      Unsur kelembagaan yang sudah lengkap mulai dari perangkat Kampung, BPD/BPK, LPM, PPK, Posyandu, Kelompok Tani.
Di samping itu juga, dilakukan pemetaan RTM (Rumah Tangga Miskin) dan warga yang peduli (Relawan/tokoh masyarakat/pemuda/tokoh agama dan tokoh perempuan) terhadap pelaksanaan penanggulangan kemiskinan. Hal ini dilakukan karena dengan dukungan tokoh-tokoh tersebut dapat mendorong dalam proses penanggulangan kemiskinan. Keberhasilan penanggulangan kemiskinan juga didukung dari kesesuaian dan pembangunan Lampung sesuai kebutuhan masyarakat dan pembanguna Kampung.



Tabel. 8.
Potensi Sumber Daya Manusia Kampung Sangir
No.
Uraian Sumber
Jumlah
Volume
1.
Pendidikan S2
2
Jiwa
2.
Pendidikan S1
13
Jiwa
3.
Pendidikan D3
4
Jiwa
4.
Tamat SMA
44
Jiwa
Sumber: Arsip Kantor Pengulu Gampong Sangir, tahun 2016.        


Dari tabel tersebut dapat kita simpulkan bahwa, sumber daya manusia di Kampung Sangir tersebut masih sangat kurang.









Karena kurangnya kesadaran dan kurangnya ekonomi masyarakat sehingga tidak melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.


Komentar